Mesin kopi Rp60 juta dibeli Januari, dipakai lima tahun. Kalau seluruh Rp60 juta jadi beban di Januari, bulan itu terlihat rugi besar dan empat tahun berikutnya terlihat "gratis". Modul ini menyelesaikan soal itu: cara membagi harga aset ke tiap periode pemakaian, membedakan servis biasa dari peningkatan, dan mencatat saat asetnya dijual.[1]
Beli: berapa harga aset yang dicatat?
Harga aset bukan hanya harga di nota. Semua biaya supaya aset itu siap dipakai ikut masuk: ongkos kirim, pemasangan, bea masuk, uji coba. Mesin kopi Rp55 juta + kirim Rp2 juta + pasang Rp3 juta = Rp60 juta. PPN masukan tidak ikut bila Rina PKP (bisa dikreditkan); bila bukan PKP, PPN ikut masuk harga.
Bayangkan membeli sepatu bola: harga sepatunya, ongkir, dan pasang pul khusus semuanya "harga sepatu", karena tanpa itu sepatunya belum bisa dipakai.
Pakai: menyusutkan
Penyusutan bukan soal barangnya rusak, melainkan soal keadilan antarperiode: tiap bulan yang menikmati mesin ikut menanggung biayanya. Tiga angka yang menentukan: harga perolehan, (laku berapa saat dipensiunkan), dan umur pakai.
Latihan: Menyusutkan dan menjual mesin
Geser harga, nilai sisa, umur, dan metodenya. Lalu coba jual mesinnya sebelum habis umur.
Nilai buku mesin dari tahun ke tahun (kuning = beban penyusutan tahun itu)
| Tahun | Beban penyusutan | Akumulasi | Nilai buku akhir |
|---|---|---|---|
| 1 | 10.800.000 | 10.800.000 | 49.200.000 |
| 2 | 10.800.000 | 21.600.000 | 38.400.000 |
| 3 | 10.800.000 | 32.400.000 | 27.600.000 |
| 4 | 10.800.000 | 43.200.000 | 16.800.000 |
| 5 | 10.800.000 | 54.000.000 | 6.000.000 |
Jurnal tiap akhir tahun (tahun 3): Debit Beban Penyusutan Rp10.800.000, Kredit Akumulasi Penyusutan Rp10.800.000. Total beban selama 5 tahun selalu Rp54.000.000, apa pun metodenya; yang berbeda hanya pembagiannya.
Kalau mesinnya dijual sebelum habis umur
- Harga beli
- 60.000.000
- Akumulasi penyusutan sampai tahun 3
- (32.400.000)
- Nilai buku saat dijual
- 27.600.000
- Harga jual
- 30.000.000
- Laba penjualan aset
- 2.400.000
Jurnal saat dijual
Debit Kas Rp30.000.000
Debit Akumulasi Penyusutan Rp32.400.000 (dihapus, karena mesinnya sudah tidak ada)
Kredit Mesin Rp60.000.000 (harga beli dihapus)
Kredit Laba Penjualan Aset Rp2.400.000
Dua metode yang paling umum:
| Garis lurus | Saldo menurun ganda | |
|---|---|---|
| Rumus per tahun | (harga − nilai sisa) ÷ umur | nilai buku awal tahun × (2 ÷ umur) |
| Beban | Sama tiap tahun | Besar di awal, mengecil |
| Cocok untuk | Etalase, meja, bangunan: manfaatnya rata | Komputer, mesin: manfaat terbesar di tahun-tahun awal |
| Pajak Indonesia | Boleh (kelompok harta menentukan umur) | Boleh untuk bukan bangunan |
Total beban selama hidup aset sama apa pun metodenya. Metode hanya mengatur kapan biaya diakui, dan itu cukup untuk mengubah laba tahun tertentu.[2]
Rawat atau tingkatkan?
Tiga tahun kemudian mesin diservis. Pertanyaannya selalu sama: pengeluaran ini mengembalikan mesin ke kondisi normal, atau menambah umur atau kemampuannya?
Latihan: Aset atau beban?
Sepuluh pengeluaran di kedai. Masuk harga aset, atau langsung beban?
Kartu 1 dari 10. Skor 0
Membeli mesin kopi baru Rp60 juta.
Pengeluaran ini dicatat sebagai…
Jual, tukar, atau buang
Saat mesin dilepas, tiga akun harus dibersihkan sekaligus: harga belinya (Mesin), akumulasi penyusutannya, dan uang yang diterima. Selisih harga jual dengan nilai buku adalah laba atau rugi penjualan aset, dilaporkan di laba rugi sebagai pos di luar usaha utama. Kalau mesin dibuang tanpa laku, seluruh nilai bukunya menjadi rugi.
Penjualan aset tetap juga punya sisi pajak: bagi PKP, penyerahan aset bekas yang dulu PPN-nya dikreditkan tetap terutang PPN; dan laba penjualan aset adalah penghasilan kena pajak bagi badan atau usaha berpembukuan.
Cek pemahaman
0/3 dijawabMesin Rp60 juta, nilai sisa Rp6 juta, umur 5 tahun, garis lurus. Beban penyusutan tiap tahun…
Setelah 3 tahun, akumulasi penyusutan mesin itu Rp32,4 juta dan dijual Rp30 juta. Hasilnya…
Mengganti boiler mesin dengan yang lebih besar sehingga umurnya bertambah 3 tahun, Rp15 juta. Dicatat sebagai…
Rujukan
Angka dalam kurung siku di dalam teks, misalnya [1], merujuk ke daftar ini. Semua artikel terbit 2023–2025; peringkat jurnal mengikuti Scimago (Scopus) atau akreditasi SINTA saat materi disusun.
Mattei, M. M., Merlo, M., & Monaco, E. (2023). The Italian depreciation suspension policy during the COVID-19 pandemic: consequences on private firms' borrowing capacity. Accounting in Europe, 20(2), 166–193. doi:10.1080/17449480.2023.2174444Scopus Q2
Saat perusahaan diizinkan menunda penyusutan, laba terlihat lebih besar dan kemampuan meminjam ikut berubah. Bukti bahwa penyusutan bukan sekadar angka teknis, melainkan memengaruhi laba dan keputusan.
Mura, A., Piras, F., & Valentincic, A. (2026). When voluntary reporting choices are credible: the case of upward revaluations in private firms. Accounting and Business Research, 56(5), 808–850. doi:10.1080/00014788.2025.2529296Scopus Q1
Nilai aset tetap di laporan adalah pilihan kebijakan yang dinilai kredibilitasnya oleh pemberi pinjaman. Menjelaskan mengapa modul ini memakai harga perolehan dan penyusutan yang konsisten.
Liu, S., & Skerratt, L. (2025). The prediction of future cash flow for UK private companies. Journal of Small Business Management, 63(4), 1884–1920. doi:10.1080/00472778.2024.2416044Scopus Q1
Menguji seberapa baik laba berbasis akrual perusahaan kecil meramalkan arus kas berikutnya. Menunjukkan bahwa laba dan kas memang dua ukuran yang berbeda dan saling melengkapi.
Selleslagh, T., & Ceustermans, S. (2025). The usefulness of financial reporting quality in the access to bank debt for private firms. Accounting in Europe, 22(1), 76–102. doi:10.1080/17449480.2024.2332397Scopus Q2
Laporan keuangan yang berkualitas memudahkan perusahaan tertutup mendapat pinjaman bank. Aset tetap, piutang, dan utang yang dicatat benar adalah inti kualitas itu.
Daftar lengkap semua rujukan ada di halaman Rujukan.

