Sebelum mulai mencatat, ada tiga "aturan main" yang disepakati semua orang yang membuat laporan keuangan. Kalau aturan ini dilanggar, catatan serapi apa pun akan menyesatkan.
Aturan 1: uang usaha bukan uang pribadi
Dalam akuntansi, usaha dianggap "orang" yang terpisah dari pemiliknya, walaupun pemiliknya cuma satu dan kedainya kecil. Ini disebut prinsip .
Artinya:
- Uang di laci kedai adalah uang kedai, bukan uang Rina, sampai Rina mengambilnya (dan pengambilan itu dicatat sebagai ).
- Tabungan pribadi Rina bukan harta kedai, sampai ia menyetornya (dan setoran itu dicatat sebagai modal).
- Belanja pribadi tidak boleh dicatat sebagai biaya kedai.[1]
Latihan: Uang siapa?
Tentukan apakah kejadian ini urusan usaha atau urusan pribadi.
Kejadian 1 dari 8. Skor 0
Membeli biji kopi untuk dijual di kedai.
Ini urusan usaha atau urusan pribadi Rina?
Aturan 2: catat saat kejadiannya, bukan saat uangnya berpindah
Ada dua cara menghitung untung rugi:
- : dihitung saat uang diterima, biaya dihitung saat uang dibayar. Sederhana, seperti mencatat isi dompet.
- : dihitung saat barang atau jasa sudah diserahkan, biaya dihitung saat sudah dinikmati atau terpakai, tidak peduli uangnya kapan berpindah.
Akuntansi memakai . Alasannya terlihat jelas kalau kita hitung laba Januari Kedai Kopi Senja dengan dua cara:
Latihan: Dua cara menghitung laba Januari
Ganti basisnya dan perhatikan angka labanya.
| Penjualan tunai (10 Jan)Uang masuk, dihitung. | 12.000.000 |
| Pesanan kantor (15 Jan), dibayar sebagian 30 JanHanya Rp1.500.000 yang sudah jadi uang. | 1.500.000 |
| Gaji barista (20 Jan)Uang keluar, dihitung. | (4.000.000) |
| Listrik dan air (28 Jan)Uang keluar, dihitung. | (1.000.000) |
| Perlengkapan: dibeli 5 jt dengan bon, dibayar 2 jt, terpakai 3 jtYang dihitung hanya uang yang benar-benar dibayar: Rp2.000.000. | (2.000.000) |
| Mesin kopi Rp18.000.000 (3 Jan), dipakai 5 tahunUang keluar semua di Januari, jadi dihitung semua. | (18.000.000) |
| Rugi Januari menurut basis kas | (11.500.000) |
Menurut basis kas, Rina rugi Rp11.500.000 di bulan pertama, padahal kedainya ramai. Penyebabnya: pembelian mesin kopi dihitung sebagai biaya sekaligus di Januari, meskipun mesin itu dipakai lima tahun. Angka ini menyesatkan.
membuat Januari terlihat rugi besar hanya karena mesin kopi dibeli bulan itu. Padahal mesin itu dipakai lima tahun. Basis akrual membagi biayanya ke setiap bulan pemakaian, sehingga laba tiap bulan adil dibandingkan.[6]
Aturan 3: potong waktu menjadi periode
Usaha berjalan terus-menerus, tetapi pemilik butuh jawaban "bulan ini untung berapa?". Maka waktu dipotong menjadi periode: biasanya satu bulan, satu kuartal, dan satu tahun.
Di akhir setiap periode, pendapatan dan biaya periode itu ditutup dan dilaporkan, lalu periode berikutnya mulai dari nol. Di materi ini, periodenya adalah satu bulan: Januari 2026.
Aturan kecil lain yang ikut dipakai:
- Satuan uang: semua dicatat dalam rupiah. Sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang (semangat karyawan, reputasi) tidak dicatat.
- Harga perolehan: barang dicatat sebesar harga belinya, bukan harga pasar hari ini.
- Kelangsungan usaha: usaha dianggap akan terus berjalan, sehingga mesin tidak perlu dinilai "kalau dijual sekarang laku berapa".
Cek pemahaman
0/3 dijawabRina membayar cicilan motor pribadinya dari rekening kedai. Di pembukuan kedai, ini dicatat sebagai…
Kedai melayani pesanan kantor 15 Januari, dibayar 10 Februari. Menurut basis akrual, pendapatannya dicatat di…
Kenapa pembelian mesin kopi tidak dicatat sebagai biaya Januari seluruhnya?
Rujukan
Angka dalam kurung siku di dalam teks, misalnya [1], merujuk ke daftar ini. Semua artikel terbit 2023–2025; peringkat jurnal mengikuti Scimago (Scopus) atau akreditasi SINTA saat materi disusun.
Rahayu, D., Hanif, A., & Chofifah, G. S. (2024). Understanding of MSME owners in Sidoarjo Regency in the preparation of financial statements based on SAK EMKM. Jurnal Reviu Akuntansi dan Keuangan, 14(4), 880–894. doi:10.22219/jrak.v14i4.28071SINTA 2
Survei 60 pelaku UMKM makanan-minuman di Sidoarjo: pemahaman SAK EMKM lebih ditentukan oleh sosialisasi dan skala usaha daripada tingkat pendidikan. Materi ini dibuat untuk mengisi celah sosialisasi itu.
Abdallah, W., Harraf, A., Ghura, H., & Abrar, M. (2025). Financial literacy and small and medium enterprises performance: the moderating role of financial access. Journal of Financial Reporting and Accounting, 23(4), 1345–1364. doi:10.1108/JFRA-06-2024-0337Scopus Q2
Literasi keuangan pemilik berpengaruh nyata pada kinerja UKM, dan makin kuat saat usaha punya akses ke pembiayaan. Catatan yang rapi adalah pintu masuk ke akses itu.
Graña-Alvarez, R., Lopez-Valeiras, E., Gonzalez-Loureiro, M., & Coronado, F. (2024). Financial literacy in SMEs: A systematic literature review and a framework for further inquiry. Journal of Small Business Management, 62(1), 331–380. doi:10.1080/00472778.2022.2051176Scopus Q1
Tinjauan atas puluhan penelitian: pemahaman keuangan pemilik usaha kecil memengaruhi cara mereka mengambil keputusan dan kinerja usahanya. Dasar mengapa edukasi seperti ini dibuat.
Panjaitan, J. M. P., Sumiyana, S., Wivaqussaniyyah, W., & Nugroho, A. H. L. (2025). Indonesian SMEs' learning orientation to acquire intellectual demands, social entrepreneurship and environmental governance for enhancing digital transformation and sustainability. International Journal of Social Economics, 53(3), 434–449. doi:10.1108/IJSE-03-2023-0196Scopus Q2
UKM Indonesia yang punya orientasi belajar lebih siap bertransformasi digital dan bertahan. Kemauan belajar mengelola catatan keuangan adalah bagian dari orientasi itu.
Panjaitan, J. M. P., Darwin, M., Sumiyana, S., Wiva, W., & Setyowati, S. M. (2025). Measuring the Indonesian SMEs' capabilities for sociodynamic and disruptive innovation: the case for gaining resilience and sustainability. Journal of Innovation and Entrepreneurship, 14(1), . doi:10.1186/s13731-025-00557-xScopus Q1
Mengukur kemampuan UKM Indonesia untuk bertahan dan berinovasi; informasi keuangan yang terkelola disebut sebagai salah satu kapabilitas dasarnya.
Liu, S., & Skerratt, L. (2025). The prediction of future cash flow for UK private companies. Journal of Small Business Management, 63(4), 1884–1920. doi:10.1080/00472778.2024.2416044Scopus Q1
Menguji seberapa baik laba berbasis akrual perusahaan kecil meramalkan arus kas berikutnya. Menunjukkan bahwa laba dan kas memang dua ukuran yang berbeda dan saling melengkapi.
Daftar lengkap semua rujukan ada di halaman Rujukan.

