Modul 16 mengajarkan HPP dengan satu harga beli. Kenyataannya harga biji kopi naik-turun tiap minggu, dan di rak ada bungkus dari tiga harga yang berbeda. Saat satu bungkus terjual, bungkus "yang mana" yang keluar? Jawaban itu menentukan HPP, laba, dan nilai persediaan di neraca.[1]
Harga mana yang keluar?
Secara fisik Rina memang mengambil bungkus dari depan rak. Tetapi pembukuan tidak melacak bungkus satu per satu; ia memakai aturan yang disepakati. Dua aturan yang diperbolehkan:
Latihan: FIFO atau rata-rata?
Tiga kali beli dengan harga naik. Geser jumlah yang terjual, ganti metodenya, dan lihat bungkus mana yang dianggap keluar.
Februari, Rina membeli biji kopi tiga kali dengan harga yang terus naik, lalu menjual 18 bungkus seharga Rp65.000. Bungkus mana yang dianggap keluar?
Kotak pudar = dianggap terjual, dimulai dari pembelian paling awal (yang termurah). Yang tersisa di rak adalah pembelian terbaru.
FIFO
- Penjualan
- 1.170.000
- HPP
- (752.000)
- Laba kotor
- 418.000
- Persediaan akhir di neraca
- 588.000
Rata-rata tertimbang
- Penjualan
- 1.170.000
- HPP
- (804.000)
- Laba kotor
- 366.000
- Persediaan akhir di neraca
- 536.000
Saat harga beli naik, FIFO memberi HPP lebih kecil dan laba lebih besar (Rp52.000 lebih tinggi di contoh ini), karena yang dianggap keluar adalah bungkus lama yang murah. Persediaan akhir FIFO Rp588.000 lebih dekat ke harga pasar sekarang. Total HPP selama hidup usaha tetap sama; metode hanya menggeser kapan biaya diakui. Yang dilarang pajak dan SAK: LIFO.
Persediaan akhir dengan metode yang dipilih: Rp588.000.
| FIFO | Rata-rata tertimbang | |
|---|---|---|
| Logika | Yang lama keluar dulu; seperti antre | Semua dicampur; satu harga untuk semua |
| Saat harga naik | HPP lebih kecil, laba lebih besar, persediaan akhir dekat harga pasar | HPP di tengah, laba di tengah |
| Hitungan | Perlu melacak lapisan harga | Cukup satu angka rata-rata, dihitung ulang tiap pembelian |
| Cocok untuk | Barang yang bisa basi atau usang: kopi, roti, gawai | Barang seragam: beras, gula, bahan curah |
Pilih satu dan konsisten. Berganti metode tiap tahun demi laba yang bagus adalah hal pertama yang dicurigai pemeriksa.[2]
Perpetual atau periodik?
Ini soal kapan mencatat, bukan harga mana:
- Perpetual: setiap penjualan langsung mengurangi persediaan dan mencatat HPP (seperti di modul 16). Saldo persediaan selalu tahu. Perlu aplikasi kasir atau kartu persediaan yang rajin diisi.
- Periodik: pembelian dicatat ke akun Pembelian; persediaan baru dihitung di akhir periode lewat opname. HPP = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir. Cocok untuk warung yang belum punya sistem.
Kelemahan periodik: Anda tidak pernah tahu berapa yang hilang, karena yang hilang otomatis "menjadi HPP". Perpetual membuat selisih terlihat, dan itulah gunanya opname.[3]
Stock opname: buku bertemu kenyataan
Setidaknya sekali setahun (lebih sering lebih baik), hitung fisik semua barang, bandingkan dengan buku, lalu sesuaikan bukunya. Aturannya: dua orang, berpasangan, yang menghitung bukan yang mencatat harian.
Latihan: Hitung sendiri raknya
Ketuk tiap bungkus yang masih bagus. Jangan hitung yang bocor dan tempat yang kosong. Lalu bandingkan dengan buku.
Menurut kartu persediaan ada 24 bungkus biji kopi. Sekarang hitung yang benar-benar ada di rak: ketuk tiap bungkus yang masih bagus. Yang bocor dan tempat kosong jangan dihitung.
Cek pemahaman
0/3 dijawabBeli 10 @Rp40 ribu, lalu 10 @Rp50 ribu. Terjual 12. HPP menurut FIFO…
Dengan data yang sama, HPP menurut rata-rata tertimbang…
Opname menemukan 21 bungkus bagus, buku mencatat 24, harga pokok Rp44 ribu. Jurnalnya…
Rujukan
Angka dalam kurung siku di dalam teks, misalnya [1], merujuk ke daftar ini. Semua artikel terbit 2023–2025; peringkat jurnal mengikuti Scimago (Scopus) atau akreditasi SINTA saat materi disusun.
Riazi, H., Doroodian, M., & Afshar-Nadjafi, B. (2024). Improving the sales process of profitable perishable goods: an inventory control strategy in a planned economy. International Journal of Retail & Distribution Management, 52(6), 721–735. doi:10.1108/IJRDM-07-2023-0453Scopus Q1
Barang yang bisa basi menuntut aturan keluar-masuk yang jelas; yang masuk dulu sebaiknya keluar dulu. Latar praktis untuk memahami FIFO.
Perera, D., Chand, P., & Mala, R. (2023). Users' perspective on the usefulness of international financial reporting standards for small and medium-sized enterprises-based financial reports. Meditari Accountancy Research, 31(5), 1133–1164. doi:10.1108/MEDAR-03-2020-0809Scopus Q1
Petugas kredit bank menilai tidak semua bagian laporan UKM sama pentingnya; informasi laba, kas, dan utang yang paling dicari. Standar yang disederhanakan (seperti SAK EMKM) berangkat dari temuan semacam ini.
Huerta-Soto, R., Ramirez-Asis, E., Tarazona-Jiménez, J., Nivin-Vargas, L., Norabuena-Figueroa, R., Guzman-Avalos, M., & Reyes-Reyes, C. (2025). Predictable inventory management within dairy supply chain operations. International Journal of Retail & Distribution Management, 53(3), 1–17. doi:10.1108/IJRDM-01-2023-0051Scopus Q1
Catatan persediaan yang akurat membuat pengadaan bisa direncanakan dan stok basi berkurang. Alasan mengapa metode pencatatan dan stock opname perlu dipilih dengan sadar.
Daftar lengkap semua rujukan ada di halaman Rujukan.

