Pelanggan memindai QRIS, uangnya baru masuk rekening besok, dan jumlahnya kurang dari harga kopi. Pesanan marketplace Senin baru cair Jumat, dipotong biaya layanan dan PPh 22. Pembayaran digital memudahkan pelanggan, tetapi memisahkan saat menjual dari saat uang diterima, dan di sanalah catatan sering kacau.[1]
Tiga kanal, satu pola
QRIS, marketplace, dan aplikasi pesan antar berbeda biayanya dan kecepatan cairnya, tetapi polanya sama: jual sekarang, uang nanti, dipotong biaya. Pembayaran digital terbukti memperluas jangkauan usaha kecil; syaratnya, catatannya mengikuti pola itu.[2][3]
Latihan: Dari pindai sampai cair
Pilih kanalnya, geser nilai pesanan, lihat aliran uangnya dan dua jurnal yang menyertainya.
Pelanggan memindai QRIS di kasir. Geser nilai pesanannya.
Pelanggan bayar
Rp85.000
Ditahan platform, potong biaya
− Rp595
MDR 0,7% (0,3% untuk usaha mikro; 0% untuk transaksi sampai Rp500 ribu per aturan BI)
Cair ke rekening, H+1 ke rekening
Rp84.405
Saat pelanggan membayar
Catat penjualan penuh Rp85.000; uangnya belum di rekening
Debit Piutang Penyelesaian QRIS 85.000 Kredit Penjualan 85.000
Saat dana cair (H+1 ke rekening)
Rekening menerima Rp84.405; selisihnya biaya platform
Debit Kas di Bank 84.405 Kredit Piutang Penyelesaian QRIS 84.405
Debit Beban Biaya Platform 595 Kredit Piutang Penyelesaian QRIS 595
Dua kesalahan yang paling umum: mencatat penjualan sebesar yang cair (Rp84.405), sehingga omzet kekecilan dan biaya platform tidak pernah terlihat; dan mencatat penjualan saat dana cair, sehingga penjualan Sabtu masuk Senin dan omzet bulanan bergeser. Bagi usaha yang PKP, PPN tetap dihitung dari nilai penjualan penuh, bukan dari yang cair.
| Kanal | Biaya (contoh) | Cair | Catatan khusus |
|---|---|---|---|
| QRIS | MDR 0,3% usaha mikro, 0,7% lainnya; 0% untuk transaksi ≤ Rp500 ribu bagi usaha mikro (ketentuan BI) | H+1 | Rekening penerima harus atas nama usaha (modul 37) |
| Dompet digital (e-wallet) | 0–2% tergantung penyedia | H+1 sampai mingguan | Saldo di dompet digital usaha = kas, catat seperti rekening bank |
| Marketplace | 4–8% biaya layanan + PPh 22 sebesar 0,5% | 2–7 hari setelah pembeli konfirmasi | Pesanan batal harus membalik penjualan; PPh 22 adalah kredit pajak |
| Aplikasi pesan antar | Komisi 15–25% | Harian atau mingguan | Komisi besar; harga di aplikasi biasanya dinaikkan |
Rekonsiliasi platform
Dana yang cair adalah hasil dari banyak pesanan dikurangi banyak potongan. Tanpa dicocokkan, tiga hal lolos dari catatan: pesanan yang dibatalkan tetap tercatat sebagai omzet, biaya platform tidak pernah terlihat sebagai beban, dan PPh 22 yang sudah dipungut tidak dikreditkan di SPT.[4]
Latihan: Cocokkan laporan penyelesaian
Enam pesanan, satu dana yang cair. Tandai mana yang sudah cair, belum, atau batal, lalu lihat rekonsiliasinya.
Laporan penyelesaian marketplace minggu ini: Rp334.800 masuk ke rekening. Di catatan kedai ada enam pesanan. Tandai mana yang sudah cair dalam dana itu, mana yang belum (masih di perjalanan), dan mana yang dibatalkan pembeli.
Petunjuk: marketplace memotong biaya 6,5% dan PPh 22 sebesar 0,5% dari pesanan yang cair. P-103 dikembalikan pembeli; P-105 baru dikirim kemarin.
Lakukan tiap minggu, bukan tiap tahun. Laporan penyelesaian biasanya bisa diunduh dari dasbor penjual; simpan sebagai bukti, karena itulah dokumen yang menjelaskan selisih antara omzet dan uang masuk saat pemeriksaan pajak.
Cek pemahaman
0/3 dijawabKopi Rp85.000 dibayar lewat QRIS, cair besok Rp84.405. Penjualan yang dicatat hari ini…
Marketplace mencairkan Rp372.000 dari pesanan Rp400.000. Potongan Rp28.000 terdiri atas biaya layanan Rp26.000 dan PPh 22 Rp2.000. PPh 22 itu dicatat sebagai…
Pesanan marketplace Rp240.000 sudah dicatat sebagai penjualan, lalu dibatalkan pembeli. Tindakannya…
Sumber
Rujukan
Angka dalam kurung siku di dalam teks, misalnya [1], merujuk ke daftar ini. Semua artikel terbit 2023–2025; peringkat jurnal mengikuti Scimago (Scopus) atau akreditasi SINTA saat materi disusun.
Hamzah Muchtar, E., Trianto, B., Maulana, I., Alim, M. N., Marasabessy, R. H., Hidayat, W., Junaedi, E., & Masrizal (2024). Quick response code Indonesia standard (QRIS) e-payment adoption: customers perspective. Cogent Business & Management, 11(1), 2316044. doi:10.1080/23311975.2024.2316044Scopus Q2
Pelanggan Indonesia makin memilih membayar lewat QRIS karena mudah dan dipercaya. Penjual yang menerimanya perlu tahu cara mencatat dana yang cair belakangan dan biayanya.
Niankara, I., & Traoret, R. I. (2023). The digital payment-financial inclusion nexus and payment system innovation within the global open economy during the COVID-19 pandemic. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 9(4), 100173. doi:10.1016/j.joitmc.2023.100173Scopus Q1
Pembayaran digital memperluas akses keuangan usaha kecil, tetapi juga memindahkan uang ke rekening perantara yang harus direkonsiliasi. Latar untuk bagian penyelesaian dana marketplace dan dompet digital.
Aqilah, D., & Tong, X. (2026). Impact of FinTech acceptance, external financial support, and firm innovation on MSME performance in Indonesia. Cogent Business & Management, 13(1), 2656014. doi:10.1080/23311975.2026.2656014Scopus Q2
UMKM Indonesia yang menerima teknologi finansial (pembayaran dan pinjaman digital) berkinerja lebih baik. Syaratnya, catatan keuangannya mengikuti: dana digital dicatat sama telitinya dengan uang tunai.
Astuti, A., Pricilia, M. D., & Inasius, F. (2024). Factors influencing tax compliance among e-commerce traders in Indonesia. Macroeconomics and Finance in Emerging Market Economies, terbit daring, 1–18. doi:10.1080/17520843.2024.2429909Scopus Q2
Survei 433 pedagang daring Indonesia: pengetahuan pajak, persepsi keadilan, dan kejelasan aturan menentukan kepatuhan penjual marketplace.
Panjaitan, J. M. P., Sumiyana, S., Wivaqussaniyyah, W., & Nugroho, A. H. L. (2025). Indonesian SMEs' learning orientation to acquire intellectual demands, social entrepreneurship and environmental governance for enhancing digital transformation and sustainability. International Journal of Social Economics, 53(3), 434–449. doi:10.1108/IJSE-03-2023-0196Scopus Q2
UKM Indonesia yang punya orientasi belajar lebih siap bertransformasi digital dan bertahan. Kemauan belajar mengelola catatan keuangan adalah bagian dari orientasi itu.
Daftar lengkap semua rujukan ada di halaman Rujukan.

